PENGUATAN MODAL SOSIAL KELEMBAGAAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN PERDESAAN DI PANTAI UTARA DAN PANTAI SELATAN

Main Article Content

Mursid Zuhri

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran modal sossial pada aktivitas nelayan miskin, jaringan sosial masyarakat nelayan, kelembagan yang dibangun terutama kelembagaan ekonomi, serta menyusun gambaran model pengembangan kelembagaan untuk pemberdayaan nelayan miskin di Kabupaten Kebumen, Kabupaten Brebes, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Rembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian mixed method kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) Modal alam (natural capital) pada sebelas desa sampel berupa pesisir dan lautan, dan mayoritas penduduk berpendidikan formal Sekolah Dasar (SD) dan sebagian tidak tamat SD serta berpendapatan rendah. (b) Interaksi yang lancar didukung hubungan sosial berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan, dan keagamaan (c) Desa yang memiliki modal sosial yang paling kuat adalah Desa Tasikagung, kemudian disusul Desa Klidang Lor Kota Pekalongan, Celong Kedawung Kabupaten Batang dan Pasir Kabupaten Kebumen. Pada masyarakat desa yang memiliki modal sosial yang relatif kuat maka tingkat kesejahteraaan masyarakat cenderung tinggi dan proses transformasi sosial-ekonominya berlangsung lebih cepat. (d) Implementasi program belum mampu menjangkau warga miskin, yang semakin tidak berdaya; tidak terjadi transfer daya, karena program lebih dimanfaatkan oleh golongan masyarakat yang lebih mampu dan berpengaruh; transfer daya hanya terjadi di tingkat kelembagaan lokal yang didominasi oleh kalangan dekat kekuasaan; dan relatif tidak terjadi proses belajar sosial, karena kegiatan program lebih bernuansa ekonomis. (e) Kekuatan budaya nonmaterial atau modal sosial menjadi faktor penting mengapa masyarakat di sebelas desa sampel hinga sekarang masih bisa bertahan. Makna terbentuknya rasa saling percaya (mutual trust) adalah hasil interaksi yang melibatkan (paling tidak antar tiga) anggota masyarakat dalam suatu kelompok ketetanggaan, asosiasi tingkat dukuh, organisasi tingkat desa, dan berkembangnya sistem jaringan sosial hingga melintasi batas desa. (f) Program pemberdayaan dipengaruhi oleh kekuatan modal
sosial yang dibangkitkan oleh sejumlah tata nilai (komposit) yang membentuk jaringan mutual trust, mutual respect dan mutual benefit. Rekomendasi yang dapat diberikan : (a) penguatan modal sosial seperti rasa malu/harga diri, empati, kejujuran, amanah, altruism, bervisi ke depan dan rasional menjadi penting diperhatikan; sedangkan untuk penggerak kemajuan material adalah kerja keras dan rajin, hemat, gandrung inovasi, menghargai prestasi kerja, bervisi ke depan, dan rasional. b) pemberdayaan masyarakat pedesaan terutama warga nelayan miskin melalui penguatan modal sosialnya perlu diletakk an dalam kerangka transformasi atau pembangunan masyarakat pedesaan secara berkelanjutan (c) pengembangan wilayah pesisir harus memperhatikan hubungan sosial dalam masyarakat nelayan, agar tidak mengarah pada polarisasi sosial. (d) faktor kepemimpinan 122 Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, Volume 18 Nomor 1 – Juni 2020 desa, dan petugas penyuluh menjadi penting untuk keberlanjutan sebuah program pemberdayaan dalam memberikan pembinaan untuk usaha ekonomi produktif masyarakat nelayan baik berupa pembinaan teknis maupun manajemen usaha. (e) perlu “pembinaan” pasca program oleh instansi
yang berkompeten; (f) perlunya pemberdayaan masyarakat miskin lewat peningkatan koordinasi antar lembaga penanggulangan kemiskinan.

Article Details

How to Cite
Zuhri, M. (2020). PENGUATAN MODAL SOSIAL KELEMBAGAAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN PERDESAAN DI PANTAI UTARA DAN PANTAI SELATAN. Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, 18(1), 121-130. Retrieved from http://ejournal.bappeda.jatengprov.go.id/index.php/jurnaljateng/article/view/813
Section
Artikel

References

Agusta, I. 2000. Asumsi-asumsi Program Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Indonesia. dalam Mimbar Sosek Th. 12 No. 3 April

Coleman, J.S. 2009. Social Teory, Social Research, and a Theory of Action. The American Jurnal of Sociology

Fukuyama, Francis. 1995. Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity, New York: theFree Press

___________ 1999. Social Capital and Civil Society makalah yang disampaikan pada the IMF

Grootaert, C (1997) ‘Social Capital: The missing link?, in Expanding the Measure of Wealth: Indicators of Environmentally Sustainable Development, Washington : World Bank, Environmentally Sustainable Development Studies and Monographs, Series No. 17, June, pp. 77 – 93

Putnam, Robert D., 1993, Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy (Princeton, New Jersey: Princenton University Press).

Rahmat, Pupu Saeful. 2008. Memupuk Institusi Lokal dan Modal Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat. https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/29

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta

Zaltman & Duncan. 1977. Strategies for Planned Change . New York, NY: John Wiley and Sons